BERKAT SEPEDA BARU
Pagi
ini matahari bersinar begitu cerah. Udara yang sejuk serta kicauan merdu burung
membuatku bersemangat untuk memulai aktifitas. Apalagi aku teringat janji ayah
2 hari lalu bahwa ayah akan mengajariku naik
sepeda pada hari Minggu. Aku sangat ingin belajar naik sepeda dari 3 tahun lalu
saat aku duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar, namun rasa takut menghalangiku.
Dan hari ini aku bersugesti bahwa mengendarai sepeda bukan hal yang sulit dan
tidak membahayakan jika kita mematuhi prosedur yang ada.
Setelah
bersiap dengan segala perlengkapan, aku mengeluarkan sepeda bekas milik kakakku
saat dahulu kecil yang mulai berkarat dari garasi rumah. Sepeda beroda empat
itu warnanya tak lagi putih susu, sadel coklat mudanya pun mulai robek dimakan
usia. Keranjang mungilnya mulai berlubang di makan tikus. Maklum hampir 10
tahun sepeda ini tidak di gunakan.
Aku
berkeliling di sekitar kampung dengan tuntunan ayah. Tak jarang aku mengalami
insiden yang hampir membuatku sedikit “kapok”, dari muli menabrak tembok,
gerobak bakso, jemuran tetangga, hingga yang terparah.................. Aku menabrak tong sampah dan
terjungkal dari sepeda mungilku. Tetangga sekitarpun bukannya menolongku, malah
menertawakanku. Rasa malu pun tak tertahankan.
Namun
ayah terus memberikan semangat kepadaku untuk tetap berlatih keras. Luka kecil
di lututku pun tak lagi jadi halangan. Peluh dan lelah sudah mulai kurasakan,
namun karna keinginan untuk bisa mengendarai sepeda aku tetap berusaha sekuat
tenaga.
Akhirnya,
setelah sedikit lancar, ayah melepas dua roda pembantu di sepeda itu dan
membiarkan aku mengayuh sepeda di sekitar rumah. Aku sangat bersemangat menjajal sepeda roda dua,
tiba-tiba di depanku ada motor melaju dengan kencang dan.........
“Ciiiiitttttttttttttttttt”
Aku menekan rem dengan kencang, ban ku mulai oleng....
“Brakkkkkkkkkkkkk!”
Sepedaku
tergelincir, selain karna roda sepeda yang sedikit kempes, permukaan paving di
sekitar rumahku sangat berpasir, jadi sangat licin.
Tangisku
pecah, luka di lututku semakin parah. Tetangga yang melihatpun langsung
menggendongku ke rumah. Setelah bunda mengobati lukaku, isak tangisku mulai
mereda. Bunda menasehati ku supaya lebih berhati-hati. Sejak kejadian ini aku
sedikit mengalami trauma.
Seminggu
setelah insiden ini, saat aku mulai bisa berjalan tanpa pincang. Aku di ajak
ayah ke garasi. Aku melihat sesuatu bertutupkan kain putih.
“Ini
apa yah?” Tatapku heran
“Kamu
buka saja nak, ini dari ayah dan bunda”
Perkataan
ayah di sertai tatapan misteriusnya membuatku semakin penasaran. Aku
melangkahkan kakiku mendekati benda itu dan perlahan-lahan ku buka kain itu.
Aku sangat terkejut dengan benda itu. Ternyata ayah dan bunda membelikan aku
sebuah sepeda baru berwarna ungu, warna kesukaanku. Tertuliskan dalam sebuah
kertas “Happy Birthday anakku, Awik”
Saat
itulah, seakan-akan rasa trauma terhadap tragedi yang aku alami saat aku
belajar mengendarai sepeda sirna seketika. Aku langsung menjajal sepeda baruku
sambil membunyikan bel.
“kring
kring” sapaku saat bertemu kawanku.
Aku sangaaat
senang! Terimakasih ayah, bunda!