Kamis, 02 April 2015

CERPEN BERKAT SEPEDA BARU

BERKAT SEPEDA BARU

Pagi ini matahari bersinar begitu cerah. Udara yang sejuk serta kicauan merdu burung membuatku bersemangat untuk memulai aktifitas. Apalagi aku teringat janji ayah 2 hari lalu bahwa ayah akan mengajariku naik sepeda pada hari Minggu. Aku sangat ingin belajar naik sepeda dari 3 tahun lalu saat aku duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar, namun rasa takut menghalangiku. Dan hari ini aku bersugesti bahwa mengendarai sepeda bukan hal yang sulit dan tidak membahayakan jika kita mematuhi prosedur yang ada.
Setelah bersiap dengan segala perlengkapan, aku mengeluarkan sepeda bekas milik kakakku saat dahulu kecil yang mulai berkarat dari garasi rumah. Sepeda beroda empat itu warnanya tak lagi putih susu, sadel coklat mudanya pun mulai robek dimakan usia. Keranjang mungilnya mulai berlubang di makan tikus. Maklum hampir 10 tahun sepeda ini tidak di gunakan.
Aku berkeliling di sekitar kampung dengan tuntunan ayah. Tak jarang aku mengalami insiden yang hampir membuatku sedikit “kapok”, dari muli menabrak tembok, gerobak bakso, jemuran tetangga, hingga yang terparah..................                                                      Aku menabrak tong sampah dan terjungkal dari sepeda mungilku. Tetangga sekitarpun bukannya menolongku, malah menertawakanku. Rasa malu pun tak tertahankan.
Namun ayah terus memberikan semangat kepadaku untuk tetap berlatih keras. Luka kecil di lututku pun tak lagi jadi halangan. Peluh dan lelah sudah mulai kurasakan, namun karna keinginan untuk bisa mengendarai sepeda aku tetap berusaha sekuat tenaga.
Akhirnya, setelah sedikit lancar, ayah melepas dua roda pembantu di sepeda itu dan membiarkan aku mengayuh sepeda di sekitar rumah. Aku sangat  bersemangat menjajal sepeda roda dua, tiba-tiba di depanku ada motor melaju dengan kencang dan.........
“Ciiiiitttttttttttttttttt” Aku menekan rem dengan kencang, ban ku mulai oleng....
“Brakkkkkkkkkkkkk!”
Sepedaku tergelincir, selain karna roda sepeda yang sedikit kempes, permukaan paving di sekitar rumahku sangat berpasir, jadi sangat licin.

Tangisku pecah, luka di lututku semakin parah. Tetangga yang melihatpun langsung menggendongku ke rumah. Setelah bunda mengobati lukaku, isak tangisku mulai mereda. Bunda menasehati ku supaya lebih berhati-hati. Sejak kejadian ini aku sedikit mengalami trauma.
Seminggu setelah insiden ini, saat aku mulai bisa berjalan tanpa pincang. Aku di ajak ayah ke garasi. Aku melihat sesuatu bertutupkan kain putih.
“Ini apa yah?” Tatapku heran
“Kamu buka saja nak, ini dari ayah dan bunda”
Perkataan ayah di sertai tatapan misteriusnya membuatku semakin penasaran. Aku melangkahkan kakiku mendekati benda itu dan perlahan-lahan ku buka kain itu. Aku sangat terkejut dengan benda itu. Ternyata ayah dan bunda membelikan aku sebuah sepeda baru berwarna ungu, warna kesukaanku. Tertuliskan dalam sebuah kertas “Happy Birthday anakku, Awik”
Saat itulah, seakan-akan rasa trauma terhadap tragedi yang aku alami saat aku belajar mengendarai sepeda sirna seketika. Aku langsung menjajal sepeda baruku sambil membunyikan bel.
“kring kring” sapaku saat bertemu kawanku.

Aku sangaaat senang! Terimakasih ayah, bunda!